pewarnaan kain batik, pewarnaan kain


Berkaitan dengan warna pada batik, pewarnaan pada batik menurut Susanto Sewan (1980:70) zat warna batik terbagi menjadi dua yaitu zat warna alam dan zat warna sintetis. Berikut ini merupakan uraian dari bahan pewarna menurut bahannya:
1.                  Zat warna alam.
            Zat warna alam,yaitu zat warna yang berasal dari bahan alam, dari tumbuhan, binatang. Zat warna alami digunakan penduduk Indonesia pada zaman dahulu sebelum zat warna sintetis dikenal. Zat pewarna dari bahan tumbuhan didapat dari akar, kulit kayu, buah, daun bahkan bunga dari suatu tanaman yang kemudian diekstraksi sehingga menghasilkan pewarna. Menurut Asti Musman (2011:25) Bahan pewarna alami ini diantaranya diambil dari tumbuh-tumbuhan:
a.                   Kayu soga tegeran menghasilkan warna kuning.
b.                  Kulit pohon soga tingi menghasilkan warna merah gelap kecoklatan.
c.                   Kulit pohon soga jambal menghasilkan warna cokelat kemerahan.
d.                  Daun indigovera atau tarum menghasilkan warna biru.
e.                   Kulit akar mengkudu menghasilkan warna merah tua.
f.                   Rimpang kunyit menghasilkan kuning, bila dicampur dengan buah jarak dan jeruk menghasilakan warna hijau tua, bila dicampur dengan daun arum menghasilkan warna hijau.
g.                  Daun mangga menghasilkan warna hijau.
h.                  Biji kesumba menghasilkan warna merah oranye.

2.                  Zat warna buatan atau zat warna sintetis.
            Zat warna buatan atau zat warna sintetis merupakan warna-warna sintetis yang terbuat dari bahan kimia, menurut Susanto Sewan (1980:81) para pembatik di Indonesia disodori zat warna sintetis oleh bangsa Belanda misalnya warna biru indigo, yang semula berasal dari daun indigofera, diganti dengan indigo sintetis yang berasal dari anthranil ditambah menochloor asam cuka atau anilin ditambah menochloor asam cuka. Warna yang lain yaitu warna kuning yang semula dipakai warna kunir atau tegerng, orang menggantinya dengan auramin (semacam cat basis). Seiring perkembangan zaman zat warna sintetis lebih digemari karena penggunaanya yang mudah serta praktis. Zat warna sintetis ini menurut Bambang Untoro (1979:109) zat warna sintetis ada beberapa macam diantaranya napthol, rapid, prosion, ergan soga, koppel soga, chroom soga dan indigosol.
a. Naptol
            Menurut Susanto Sewan (1980:197) pengunaan naptol pada satu meter kain hanya dengan pencampuran 5 gram naptol, 2½ gram T.R.O (Turkish Red Oil) dan 2½  gram  kustik (soda abu/ NaOH) yang kesemuanya dilarutkan dalam air panas. Garam pembangkit warna digunakan untuk menimbulkan warna pada kain setelah kain dimasukkan dalam larutan pertama. Garam 10 gram dilarutkan dalam satu liter air dalam satu meter kain. Penggunaan naptol dengan proses celup ini lebih praktis selain itu warnanya lebih terang dan jelas. Penggunaan naptol sekarang ini lebih digemari karena warnanya yang cepat timbul dan tidak membutuhkan waktu yang lama
b. Indigosol
            Penggunaan pewarna indigosol sering disebut dengan coletan karena penggunaan pewarna ini kuas dicelupkan di cairan pewarna kemudian dicoletkan pada kain batik. Menurut Sewan (1980:180) golongan pewarna ini banyak sekali, warnanya rata dan ketahananya baik. Pemakaian untuk batik pewarna indigosol dan rapid hampir sama yaitu dapat dengan cara celupan ataupun coletan. Menurut Bambang (1979:117) penggunaanya yaitu dengan cara mencampurkan 3 gr indigosol blue O4B dilarutkan kedalam air dingin sedikit, setelah itu ditambahkan air panas 60°C sebanyak ¼ liter, dan larutan sudah siap dipakai. Guna membangkitkan warna digunakan larutan asam chloride atau asam sulfat 10 cc tiap 1 liter air, kemudian kain dicelupkan 3 menit, setelah warna timbul segera cuci dengan air bersih agar sisa asam sulfat tidak merusak pakaian.
c. Rapide
            Pewarna rapid menurut Sewan (1980:181) warna-warnanya seperti golongan cat napthol, pada pembatikan pemakaiannya dengan cara coletan. Menurut Bambang (1979:137) untuk menggunakan bahan pewarna ini dibutuhkan 5 gram rapide, 10 cc TRO, 5 cc loog 38 Be, air panas. Cara menggunakannya campurkan 5 gr rapide dengan 10 cc TRO diaduk, setelah itu ditambah air panas, 5 cc loog 38 Be sampai semua bahan larut semua dan larutan cat warna siap digunakan. Setelah rapide dicoletkan didiamkan selama 1 hari dan warna akan timbul dengan sendirinya namun bias juga dicelupkan pada larutan asam cuka pekat 1 liter.
d. Prosion (procion)
            Prosion (procion) merupakan golongan cat warna reaktif, menurut Bambang (1979:121) penggunaan cat warna ini lebih digunakan pada bahan tenun karena sifatnya yang mengkilat dan bagus. Biasanya cat warna ini ketahananya kurang, makanya banyak pengusaha yang jarang menggunakan cat warna ini bahkan tidak menggunakannya.
e. Ergan Soga

Ergan Soga merupakan cat warna yang banyak sekali dipakai oleh para pengusaha batik, menurut Bambang (1979:125) ergan soga digunakan untuk memberi warna cokelat pada batikkan. Menurut Bambang (1979:125) ergan soga banyak digunakan sebab karena mempunyai dasar warna yang hampir mirip dengan soga Jawa (soga yang asli dari tumbu-tumbuhan). Namun pada zaman sekarang sudah jarang yang menggunakan bahan pewarna ini



tabel warna

Comments

Popular posts from this blog

pewarnaan kain batik, pewarnaan kain